Kesiapsiagaan Dinkes Kabupaten Tabanan Dalam Mengantisipasi Penularan Penyakit Flu Burung

Hits: 299

Kronologis Kejadian

  1. 22 Januari 2004;  Kewaspadaan Penyebaran Flu Burung dari Dirjen PPM-PL
  2. 26 Januari 2004; Dinas Peternakan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan melakukan pengamatan di lapangan terhadap penyakit yang menyebabkan kematian pada ayam dan menjaga kebersihan lingkungan.
  3. 27 Januari 2004; Adanya berita kasus flu burung menyerang manusia di Kab Tabanan di salah satu Media elektronik atas nama Kadek Heri Darmaputra, Laki-laki, umur 3Tahun 2 Bulan.
  4. 04 Januari 2004; Melakukan investigasi kelapangan oleh tim yg terdiri dari : Dinkes Prop. Bali, UPTD Balai Lab.Kes Prop. Bali, Dinkes Kab. Tabanan, RSU Kab. Tabanan dan Puskesmas Penebel I.
  5. 30 Januari 2004;Pelaksanaan serosurvei, dengan mengambil sampel darah sejumlah 93 sampel (72 pekerja ternak, 21 kontrol). Tim juga mengambil sampel darah ayam sebanyak 8 sampel darah ayam (4 yang sakit, 4 kontrol)
  6. 06 Pebruari 2004;Melakukan pemusnahan (stamping out) ternak unggas di Br.Bolangan desa Babahan Penebel Tabanan.
  7. 10 Pebruari 2004; Hasil serosurvei (-) H5N1
  8. 25 Maret 2005; Dilakukan serosurvei pada 4 desa di kecamatan Penebel,dengan jumlah sampel 120
  9. 16 Mei 2005; Hasil pemeriksaan lab (-)H5N1

10.  10 Juli2006; Ada kematian unggas(ayam) mendadak di Desa Mundeh Br. Pancoran dan dilakukan pengambilann sampel pada unggas

11.  17 Juli 2006; Hasil pemeriksaan lab. (+) H5N1

Langkah-langkah Penanggulangan

Surveilans aktif ; Surveilans aktif dilakukan apabila ada kasus kematian unggas >10% atau KLB AI di masyarakat.

Surveilans Pasif;

1. Dilakukan di Puskesmas

2. Kasus-kasus yang perlu dilaporkan sebagai kecurigaan terhadap AI;  Kasus  ILI  dengan riwayat kontak dengan unggas sakit/mati  Dan atau produk   mentahnya dalam 7 hari terakhir atau tinggal didaerah yg terdapat kematian massal unggas dalam 2 minggu terakhir, Kasus pneumonia dgn riwayat kontak seperti diatas, Kasus pneumonia berat yang mengelompok (cluster), Kematian dengan Acute Respiratory Distress Syndrom (ARDS) yang tidak didasari penyakit lain.

Investigasi kasus dan faktor resiko dilakukan untuk mengidentifikasi riwayat :

1. Perjalanan penyakit penderita

2. Kontak/paparan dengan unggas/ternak

3. Kontak/paparan dgn penderita ILI/pneumonia

4. Kontak/paparan melalui proses penyiapan makanan

5. Medis/Kesehatan penderita

Surveilans kontak; Kontak adalah orang yg pernah kontak dgn penderita (orang yang serumah dgn penderita,tetangga,saudara,dll). Data surveilans meliputi riwayat:

1. Kontak responden dgn penderita

2. Medis/kesehatan responden

3. Kontak/paparan kepemilikan dan kontak responden dengan unggas.

4. Kontak/paparan melalui proses penyiapan makanan.

Promosi Kesehatan;  Promosi kesehatan dalam penanggulangan Avian Influenza adalah upaya membantu (memberdayakan) masyarakat agar mampu mengenali serta melaksanakan perilaku mencegah dan mengatasi Avian Influenza.

Strategi Dasar Promosi Kesehatan; Strategi dasar promosi kesehatan dalam penanggulangan flu burung adalah Gerakan Pemberdayaan Masyarakat, Bina Suasana dan Advokasi

Pesan Pokok, Metode dan Media; Dalam melakasanakan promosi kesehatan tentang avian influenza sebaiknya memperhatikan aspek-aspek sasaran,pesan yg akan disampaikan, metode/teknik penyampaian  pesan,dan media yg digunakan.

KOORDINASI

  1. Koordinasi Lintas Program

Koordinasi lintas program adalah koordinasi antar petugas program terkait diiternal Puskesmas.Koordinasi lintas program langsung dipimpin dan dipantau terus oleh kepala puskesmas. Program terkait di Puskesmas adalah P2M, Tim Surveilans Puskesmas, Kesehatan Lingkungan, dan Gizi.

  1. Koordinasi Lintas Sektor

Sektor atau organisasi kemasyarakatan yg terkait dalam penanggulangan Avian influenza di tingkat Puskesmas adalah:

1. Pukesmas

2. Dinas Pertanian/Peternakan (KCD bila ada)

3. Camat

4. Kepala Desa/Lurah

5. Badan Perwakilan Desa (BPD)

6. Ketua PKK (Kecamatan,desa)

7. Tokoh agama/tokoh adat

C. Peran Dinas Kesehatan Kabupaten

1.   Advokasi dan koordinasi dgn sektor terkait.

2.   Bertanggung jawab dalam pelaksanaan kewaspadaan dini, penyelidikan, dan penanggulangan KLB Avian influenza.

3.   Fasilitasi dan asistensi teknis (Bintek)

4.   Fasilitasi sarana dan prasarana

5.   Monitoring dan evaluasi

6.   Umpan Balik.

APA ITU FLU BURUNG

Flu burung (Avian Influenza) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus influenza strain type A (H5N1).Penyakit ini menular dari burung (unggas) ke burung, dapat juga menular dari burung ke manusia. Sedangkan penularan dari manusia ke manusia sampai saat ini belum ditemukan.

Masa Inkubasi virus yaitu 3 hari ( 1-7 hari ), dengan masa penularan pada manusia adalah satu hari sebelum, sampai 3-5 hari setelah gejala timbul dan pada anak dapat sampai 21 hari.

Sumber penularan penyakit ini dapat menular melalui udara yang tercemar virus H5N1, yang berasal dari kotoran atau sekreta burung/unggas yang menderita influenza.

CARA PENULARAN

Penularan penyakit ini kepada manusia dapat melalui :

  1. Kontak langsung dengan unggas yang sakit atau produk unggas yang tercemar.
  2. Kontak langsung melalui suatu benda yang tercemar virus Avian Influensa ( sangkar, kandang, dll )
  3. Udara yang tercemar virus tersebut baik yang berasal dari tinja maupun sekreta unggas yang terserang AI.

GEJALA PADA MANUSIA

Seperti gejala flu biasa:

-  Demam lebih dari 38 derajat Celsius

-  Sakit tenggorokan

-  Batuk

-  Beringus

-  Nyeri otot

-  Sakit Kepala

Namun dalam waktu singkat dapat menjadi berat karena terjadi peradangan pada paru(pneumonia) dan dapat meninggal

 

LANGKAH-LANGKAH PENANGGULANGAN

A. Strategi dan kegiatan penanggulanganAvian Influenza ini merupakan bagian

dari kesiapsiagaan dalam menghadapi pandemi influenza.

B. Surveilans

1. Tujuan

a. Identifikasi dini kasus

b. Identifikasi daerah KLB

c. Menetapkan besarnya dan luasnya masalah

d. Mencegah transmisi melalui pencegahan

e. Masukan bagi penyebaran informasi epidemiologi AI.

2. Sasaran

Kelompok masyarakat yang mempunyai resiko terjangkit AI adalah :

  1. Pekerja peternak/pemrosesan unggas
  2. termasuk dokter hewan/ Ir. Peternakan
  3. Pekerja Laboratorium
  4. Petugas di Pelayanan Kesehatan
  5. Pengunjung peternakan/pemrosesan
  6. unggas ( dalam satu minggu terakhir )
  7. E. Pernah kontak dengan unggas mati mendadak
  8. F. Pernah kontak dengan penderita AI

Langkah-Langkah

A. Surveilans Aktif

Surveilans Aktif dilakukan apabila ada

kasus kematian unggas atau KLB AI di

peternakan/ masyarakat.

B. Surveilans Pasif

1. Dilakukan di Puskesmas

2. Kasus-kasus yang perlu dilaporkan

sebagai kecurigaan terhadap AI yaitu :

a. Kasus ILI dengan riwayat kontak

dengan unggas mati.

b. Kasus Pnemonia dengan riwayat

kontak dengan unggas

c. Kasus Pnemonia berat yang mengelompok

d. Kematian dengan Acute Respiratory Distress

Syndrom ( ARDS ) yang tidak didasari penyakit lain.

C. Investigasi Kasus & Faktor Risiko

Infestigasi dilakukan untuk mengidentifikasiRiwayat :

  1. Perjalanan penyakit penderita
  2. Kontak/paparan dengan unggas/ternak
  3. Kontak/paparan dengan penderita ILI
  4. Kontak/paparan melalui proses penyiapan makanan
  5. Medis/ kesehatan penderita.

Surveilans Kontak

Kontak adalah orang ( responden ) yang pernah kontak dengan penderita ( orang yang serumah dengan penderita, tetangga,saudara, dll ).

Data surveilans meliputi riwayat :

1. Kontak responden dengan penderita

2. Medis/ kesehatan responden

3. Kontak/paparan kepemilikan dan kontak

responden dengan unggas

4. Kontak/paparan melalui proses penyiapan

makanan

 

* sumber: presentasi dinas kesehatan kabupaten Tabanan

0
0
0
s2sdefault