Museum Subak Sanggulan

  • 06 September 2010
  • Dibaca: 12348 Pengunjung
Museum Subak Sanggulan

Pada musim tanam tahun 1979, subak Rejasa memperoleh juara I Supra Insus TingkatNasional, sebagai prestasinya dalam meningkatkan produksi pertanian. Berhubung dengan hal tersebut Gubernur Kepala daerah Tingkat I Bali. Prof. Dr. Ida bagus Mantra saat itu mempunyai gagasan untuk mendirikan Museum Subak di daerah Sanggulan, karena kabupaten Tabanan mempunyai subak terbanyak dan terluas arealnya yang juga Tabanan terkenal sebagai lumbung berasnya Bali.

Tujuan Didirikannya Museum Subak

Adapun tujuan didirikannya Museum Subak adalah sebagai berikut:

  1. Menggali dan menghimpun berbagai benda dan data yang berkaitan dengan subak, termasuk yang mempunyai nilai sejarah serta menyuguhkannya sebagai sarana study/penelitian.
  2. Menyelamatkan, mengamankan dan memelihara berbagai benda yang berkaitan dengan subak.
  3. Menyuguhkan sebagai bahan informasi, dokumentasiu serta media pendidikan tentang subak.
  4. Tempat rekreasi / obyek pariwisata

Sejarah Singkat Berdirinya Museum Subak

Museum subak diresmikan oleh gubernur Bali tanggal 13 Oktober 1981. Museum ini merupakan museum khusus, tentang sistem pertanian di Bali yang dikenal dengan nama subak dan memiliki bangunan museum induk dan museum terbuka.

Museum Induk, Terdiri dari;

Bangunan atau komplek suci dengan padmasana, pura bedugul,dan lainnya. Tata ruang dan tata letak dari bangunan-bangunan di maksud disesuaikan dengan lingkungan di sekitarnya dengan mengikuti pola pembangunan tradisional; Tri Mandala, Tri Angga, dan Asta Kosala-Kosali.

Bangunan utama terdiri dari dua gedung yaitu pusat informasi dan gedung pameran.

Sedangkan Museum Terbuka yang mewujudkan sebagai subak murni yang dipakai sebagai peragaan kegiata subak mulai dari sistem irigasi sampai proses kegiatan petani di sawah.

 

Barang Pameran

Barang yang dipamerkan, dipajang di museum subak menyangkut barang alat pertanian yang digunakan oleh para petani d dalam mengerjakan sawahnya yang meliputi proses: Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan. Hal ini kesemuanya berkaitan dengan kegiatan/aktivitas di subak.

 

Subak

Berdasarkan temuan dalam data prasasti, dapat disimpulkan bahwa pertanian dengan sistem perladangan dan sistem persawahan yang teratur telah ada di Bali pada tahun 882 M. Dalam prasasti Sukawana A1 tahun 882 M terdapat kata “HUMA”, berarti sawah dan kata “PERLAK” yang berarti tegalan.

Dalam prasasti Raja Purana Klungkung yang berangka tahun saka 994 (1072 M), disebutkan kata Kasuwakara yang kemudian menjadi suwak atau subak. Keaslian sistem ini juga diperkuat dengan lontar Markandeya Purana sebagai dokumen historis yang menyebutkan”...sang mikukuhin sawah kawastanin subak, sang mikukuhin toya kawastaniu pekaseh, ika ne wenang ngepahin toya punika...” artinya, yang mengurus sawah seperti menggarp sawah dan sebagainya dinamakan subak, sedangkan yang diberikan tugas untuk mengurus dan menyelenggarakan pembagian air di sawah dan di ladang disebut pekaseh.

Pujian terhadap keberadaan lembaga tradisonal subak ini telah banyak disampaikan oleh para ahli dan masyarakat internasional, salah satunya diantaranya John S Amber (1990) menyatakan bahwa subak dengan alat keirigasian yang nampaknya sederhana saja merupakan salah satu organisasi petani pemakai air yang paling canggih di seluruh dunia.

Filosofi Subak

Subak, demikian orang sering menyebut,yang berdasarkan atas filosofi Tri Hita Karana dapat dipandang sebagai suatu sistem, karena subak mengandung tiga komponen pokok yaitu;

  1. Parahyangan: hubungan manusia dengan Tuhan Yang Mahya Esa
  2. Pawongan: Hubungan Manusia dengan Manusia
  3. Palemahan: Hubungan Manusia dengan lingkungan alamnya.

Berdasarkan pendataan/inventarisasi terhadap keberadaan subak di Bali, maka jumlah subak di Bali pada akhir tahun 2004 tercatat sebanyak 1.559 subak dengan luas wilayah seluruhnya 129.587.12 Ha.

Pura; Adapun pura-pura yang ada di lingkungan subak antara lain:

  1. Pura bedugul (yang dibangun pada setiap tempat pembaian air dan bendungan)
  2. Pura Ulun Suwi (yang dibangun pada setiap wilayah subak atau bberapa subak yang mempunyai sumber air yang sama)
  3. Pura Ulun Danu, yang terdapat pada tempat pada keempat danau di bali yaitu; daanau Beratan, danau Buyan, danau Tamblingan, dan danau Batur.
  4. Pura Masceti, yang dibangun dalam wilayah dimana subak itu  berada.

Upacara

Upacara keagamaan yang dilakukan oleh anggota subak pada garis besarnya dapat dibagi dua upacara yang dilakukan secara perseorangan dan upacara yang dilakukan oleh kelompok (tempek/subak). Upacara keagamaan yang dilakukan oleh para petani adalah:

  1. Ngendagin yang dilakukan mulai melakuka pencakulan pertama
  2. Ngawiwit yang dilaksanakan pada waktu petani menbur benih di pembibitan.
  3. Mamula/nandur dilaksanakan pada saat menanam
  4. Neduh dilakukan pada saat padi berumur satu bulan dengan harapan agar padi tidak diserang hama penyakit
  5. Binkukung dilakukan pada saat padi bunting
  6. Nyangket dilakukan pada saat panen.
  7. Mantenin dilakukan pada saat padi disimpan di lumbung atau tempat lainnya sebelum padi diolah menjadi beras untuk pertama kalinya.

Pada tingkat tempek, upacara yang dilakukan antara lain:

  1. Upacara mapag toya, dilakukan di dekat bendungan menjelang pengolahan tanah.
  2. Upacara nyaeb/mecaru, dilakukan agar padi tidak diserang hama penyakit
  3. Upacara ngusaba, dilakukan menjelang panen.

Adapun upacara yang lainnya, serta harus dilakukan oleh para petani antara lain:

  1. Nyepi sawah, hal ini dilakukan sebagai simbolis pembersihan buana agung dan buana alit yang nantinya akan menghasilkan keseimbangan dalam kehidupan manusia.
  2. Nangluk merana, merupakan suatu ritual dalam rangka menolak hama yang ada di sawah dengan melaksanakan suatu upacara yang berkaitan dengan pura yang mempunyai hubungan dengan penguasa hama.

 

Awig-Awig

Subak sbagai organisasi yang independen; berhak mengurus rumah tangganya sendiri dan dapat menetapkan awig-awig. Awig-awig adalah suatubentuk hukum tertulis yang memuat seperangkat  kaidah-kaidah sebagai pedoman dalam bertingkah laku dalam masyarakat (dalam hal ini para petani), dan disertai sanksi-sanksi yang dilaksanakan secara tegas dan nyata yang hanya memuat kententuan pokok saja. Sedangkan ketentuan detail dimuat dalam perarem sebagai pelaksanaan awig-awig subak. Isi pokok awig-awig, mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan (tata parahyangan), mengatur hubungan manusia dengan manusia (tata pawongan), dan mengatur hubungan manusia dengan alamnya/lingkungannya (tata palemahan). Dalam ketentuan awig-awig ini, memuat ketentuan hak dan kewajiban serta sanksi atas pelaranggaran hak dan kewajiban yang dapat berupa dosa atau denda.

 

Organisasi

  1. Angota subak adalah orang yang mempunyai sawah dan emndapatkan air, dan dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu:
  2. Anggota aktif; adalah anggota yang disebut kemudian di dalamnya adalah, pekaseh, sekaa yeh atau sekaa subak.
  3. Anggota tidak aktif; adalah anggota yang mengganti kewajibannya dengan uang yang disebut “pengohot” atau “pengampel”.
  4. Anggota luput; adalah anggota yng tidak aktif dalam segala kegiatan subak karena tugasnya seperti: bendesa adat, sulinggih, atau pemangku.

Prajuru/pengurus subak, terdiri atas;

  1. Pekaseh/kelihan subak
  2. Pangliman/petajuh
  3. Penyarikan/juru tulis
  4. Petengen/juru raksa
  5. Saya/juru arah/juru tibak/kasinoman
  6. Pemangku/urusan keagamaan

Sekaa dalam subak

  1. Sekaa numbeg: dalam hal pengolahan tanah
  2. Sekaa jelinjing: pengolahan air
  3. Sekaa sambang: pengawasan air dari pencurian
  4. Sekaa mamulih/nandur: dalam hal penanaman padi
  5. Sekaa manyi: menuai/motong/ngetam padi.

Untuk saat sekarang, disesuaikan dengan kondisi jaman dan perkembangan teknologi, terdapat; Pemberantasan hama sebagai peningkatan efektivitas sekaa/sambang, handtractor yang disewakan sebagai pengganti sekaa numbeg.

 

Distribusi Pembagian Air

Adapun satuan dasar pembagian air sampai petakan sawah bagi subak ialah “tektek”, yaitu dalam bahsa bali yang artinya”cacah”, atau ukuran lebar suatu alat pembagian air yang dibuat dari batang kayu yang mempunyai alur akibat dicacah. Alat pembagian air ini disebut “tembuku” yang dapat dianggap sebagai sekat ukur, tetapi dalam bentuk sederhana.

Sesukat sawah atau sebidang sawah memperoleh pembagian satu tektek bila sawah tersebut menggunakan bibit “satu tenah”. Tenah adalah ukuran padi yang beratnya kurang lebih 25 sampai dengan 30 kg.

 

Jaringan Irigasi

Jaringan irigasi bila diurut dari sumber air, terdiri dari:

  1. Empelan (empangan)
  2. Buka/bungas
  3. Aungan (terowongan)
  4. Telanbah aya (gede), saluran utama
  5. Temuku aya (gede), bangunan bagi utama
  6. Telabah tempek (munduk/dahan/kanca)
  7. Telabah cerik/saluran ranting
  8. Telabah penyahcah (tali kunda)

Di beberapa tempat dikenal dengan istilah

  1. Penasan untuk 10 bagian
  2. Panca untuk 5 orang
  3. Pemijian untuk sendiri (1 orang)

Selain itu, subak juga mempunyai bangunan pelengkap seperti:

  1. Penguras (flushing)
  2. Pepiuh (overlow)
  3. Petaku (bangunan terjun)
  4. Talang (abangan)
  5. Jengkuwung (gorong-gorong)
  6. Keluwung (urung-urung)
  7. Titi (jembatan)
  8. Telepus (syphon)

 

Fungasi Subak

Secara Intern

  1. Mengatur pembagian air dengan sistem temuku, yaitu;
  2. Temuku aya: pembagian air di hulu
  3. Temuku Gede: ukuran bagian air untuk wilayah persubakan
  4. Temuku penasan: ukuran bagian air yang langsung ke petak sawah yang jumlah petani sawah 10 bagian.
  5. Temuku penyahcah: ukuran bagaian air untuk perorangan.
  6. Memelihara bangunan pengairan disertai dengan pengamanan, sehingga dapat dihindari kehilangan air pada saluran air.
  7. Mengatur tata guna tanah dengan sistem sengkedan, sehingga lahan tanah yang tadinya bergunung-gunung menjadi hamparan sawah yang berundak-undak.

 

Pola tanam

-  Kerta masa: wilayah subak ditanami pai semua karena air mencukupi

-  Gegadon: pergiliran tanaman padi dengan palawija, karena pergiliran pemakaian air dengan subak sekitarnya.

Pada kondisi tertentu, karena kondisi alam diupayakan dengan sistem:

-  Ngulu: sawah dihulu yang  mendapatkan air terlebih dahulu

-  Maongin: sawah yang berada di tengah yang mendapat giliran air

-  Ngasep: sawah yang dihilir mendapat bagian air paling akhir

 

Ekstern

Vertikal: hubungan subak dengan lembaga pemerintah atasan (sedahan, sedahan agung maupun bupati/walikota, yang mempunyai hubungan struktural, khususnya di bidang pengenaan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan), namun diimbali dengan petunjuk-petunjuk dalam meningkatkan produksi pertanian di subak.

Hubungan subak dengan lembaga selevel seperti; desa dinas atau kelurahan dan desa adat yang diwujudkan dalam bentuk koordinasi.

 

Fungsi Subak dari Segi Jasa dan Motivasi

Fungsi subak dilihat dari segi jasa sebagai berikut:

1. Penatagunaan air tradisional: dapat meringankan beban pemerintah, misalnya dalam pembuatan sarana persubakan (membeton empangan dan saluran air lainnya, semula dengan batu padas, pepohonan (turus hidup) pada pembuatan areal sawah baru dapat menekan biaya milyaran rupiah.
2. Pola tanam; adanya sistem kerta masa; menekan/meutus siklus hidup hama dan pemnyakit tanaman, sekaligus menghindari bertanam padi secara tulak sumur (tidak serempak penanamannya).
3. Usaha tani terpadu; seperti kolam air deras, mina padi, peternakan itik dan sapi sangat baik dengan lahan pertanian (sistem tumpang sari, yakni padi di tengah dan mina dipinggir petakan sawah serta sayur mayur di pematang petakan sawah)
4. Otonomi; subak mengatur hak dan kewajiban warganya serta upaya pemulihan atas pelanggaran yang terjadi, yang dikenal dengan istilah awig-awig, sima, perarem, dan sebagainya.
5. Produksi; padi ari tahun ke tahun dapat ditingkatkan, contoh; subak rejasa tahun 1979 berhasil keluar sebagai juara 1 supra insus tingkat nasional.

 

Fungsi subak dilihat dari segi motivasi, dilihat dari faktor;

Religius/keagamaan; yang melandasi subak adalah agama Hindu, yng bertujuan” moksartham Jagadhita ya ca iti dharma” (menuju kesejahteraan lhir dan batin).

Sosial budaya; “desa kala patra dan desa mawa cara”, yaitu penyesuaian dengan situasi dan kondisi setempat.

Pemanfaatan; subak dapat dibagi menjadi tempek, banjaran, munduk, atau arahan.

 

Jam kunjungan  museum: Senin s/d Sabtu: 08.00-17.00 wita, khusus hari Jumat; 08.00-13.00 wita, sedangkan hari minggu/libur resmi TUTUP

Tulisan ini semuanya disalin dari buku “Museum Subak” yang diterbitkan oleh dinas kebudayaan dan pariwisata kabupaten Tabanan, UPTD Museum Subak Sanggulan, alamat: jl. Gatot Subroto-Tabanan | telp/fax: 0361 810315

 

 

 

  • 06 September 2010
  • Dibaca: 12348 Pengunjung

Wisata Tapin Terkait Lainnya

Cari Wisata Tapin